. : Regular Class - Season 9 : .
11 januari 2024 - 15 Juni 2024
. : Math Qur'an : .
Season 2 "Special Ramadhan"
Selasa, 12 Maret 2024 - Selasa, 5 April 2024

HAQU : Hafalan Qur'an Level 5

Level 5 :
  1. Q.S At-Takwir
  2. Q.S Abasa
  3. Q.S An-Nazi'at
  4. Q.S An-Naba

HAQU : Hafalan Qur'an Level 4

Level 4 :
  1. Q.S Al-Buruj
  2. Q.S Al-Insyiqoq
  3. Q.S Al-Muthofifin
  4. Q.S Al-Infithor

HAQU : hafalan Qur'an Level 3

Level 3 :
  1. Q.S Al-Lail
  2. Q.S Asy-Syamsi
  3. Q.S Al-Balad
  4. Q.S Al-Fajr
  5. Q.S Al-Ghosyiyah
  6. Q.S Al-A'la
  7. Q.S Ath-Thoriq

HAQU : Hafalan Qur'an Level 2

Level 2
  1. Q.S Al-Qori'ah
  2. Q.S Al-'Adiyat
  3. Q.S Al-Zalzalah
  4. Q.S Al-Bayyinah\
  5. Q.S Al-Qodr
  6. Q.S Al-'Alaq
  7. Q.S At-Tiin
  8. Q.S Al-Insyiroh
  9. Q.S Adh-Dhuha

HAQU : Hafalan Qur'an Level Dasar dan Level 1

Level Dasar
  1. Q.S An-Naas
  2. Q.S Al-Falaq
  3. Q.S Al-Ikhlas
Level 1
  1. Q.S Al-Lahab
  2. Q.S An-Nasr
  3. Q.S AL-Kafirun
  4. Q.S Al-Kautsar
  5. Q.S Al-Ma'un
  6. Q.S Al-Quraisy
  7. Q.S Al-Fiil
  8. Q.S Al-Humazah
  9. Q.S Al-'Asr
  10. Q.S At-Takatsur

10 Do;a Tema Sholat 2

Assalamualaikum Semuanya...
semoga kita selalu dalam rahmat nya. pasti sudah penasaran kan dengan materi Do'a 10 tema sholat 2 kan? ini dia daftar Do'a nya


  1. Do'a qunut
  2. Niat sholat sunah 10
  3. Niat sholat mayit dan ghoib
  4. Do'a Sholat Mayit 1 
  5. Do'a Sholat mayit 2
  6. Niat I'tikaf
  7. Do'a sholat duha
  8. Do'a Sajdah
  9. D0'a Masuk masjid
  10. Do'a Keluar masjid
Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk terus mengamalkan Do'a doa harian ini ya ^_^
Wassalamualaikum Wr. Wb.

TAUHID : Silsilah nabi - Khotimah

يَجِبُ عَلى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ جِهَّةِ أُمِّهِ فَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بِنِ هَاشِمِ بِنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَى بِنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَى بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مِالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ بِنِ مُضْرِ بْنِ نِزَارِ بْنِ مُعَدِ بْنِ عَدْنَانَ وَلَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ اِلى آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلاِةُ وَالسَّلاَمُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.

وَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ اُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلاَبِ فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى جَدِّهِ كِلاَبٌ

SILSILAH NASAB RASULULLAH

Wajib bagi semua orang untuk mengetahui silsilah Nabi s.a.w., baik dari pihak ayah Beliau maupun dari pihak ibu Beliau.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ayah beliau adalah, baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra ‘Abdullāh putranya ‘Abd-ul-Muththalib putranya Hāsyim putranya ‘Abdu Manāf putranya Qushay putranya Kilāb putranya Murrah putranya Ka‘b putranya Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar putranya Nizār putranya Ma‘add putranya ‘Adnān. Dan – sampai Sayyid ‘Adnān ini – tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam a.s.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi s.a.w., pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.

KEKHUSUSAN NABI


وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًـا.

وَأَنَّهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْفَعُ فِى فَصْلِ الْقَضَاءِ وَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا أَنْ يَعْرِفَ الْرُّسُلَ الْمَذْكُورَةَ فِى الْقُرْأنِ تَفْصِيْلاً وَأَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَهُمْ اِجْمَالاً

وَقَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمْ الأَنْبِيآء اَلَّتِى تَجِبُ مَعْرِفَتَهُمْ تَفْصِيْلاً, فَقَالَ :

حَتْمٌ عَلى كُلِّ ذِي التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ *** بِأَنْبِيَآءَ عَلى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُـوْا
فِى تِلْكَ حَجَتُنَا مِنْهُمْ ثَمَــانِيَةٌ *** مِنْ بَعْـدِ عَشْرٍ وَيَبْقى سَبْعَةٌ وَهُمْ
اِدْرِيْسٌ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا *** ذُو الْكِفْلِ آدَمٌ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا
Dan dari sebagian perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w., memiliki Ḥaudh(danau di surga).

Dan sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w. akan memberi syafaat ketika dalam Fashl-ul-Qadhā’ (pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafā‘ah ini dikhususkan kepada Nabi Muḥammad s.a.w.

Dan yang wajib untuk diketahui juga adalah nama para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān secara rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib mengetahuinya secara global saja.

Dan sebagian ulama telah menazhamkan nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka berkata:

Wajib bagi setiap Mukallaf mengetahui,
Nama para Nabi secara terperinci yang telah diketahui.

Di situlah hujjah kita. Sebagian mereka ada delapan,
Setelah sepuluh (8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.

Nabi Idrīs, Hūd, Syu‘aib, Shāliḥ, begitu juga,
Nabi Zulkifli, Ādam dengan Nabi yang terpilihlah (Nabi Muḥammad) para Nabi diakhiri.

ERA TERBAIK SETELAH ZAMAN NABI

وَمِمَّا يَجِبُ اِعْتِقَادُهُ أَيْضًـا أَنَّ قَرَنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُونِ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُ

وَيَنْبَغِى لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ أَوْلاَدَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ عَلى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ وَسَيِّدَتُنَا اُمُّ كُلْثُومٍ وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ وَسَيِّدُنَا اِبْرَاهِيْمُ وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرى اِلاَّ اِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ.

وَهَذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan sebagian yang wajib diyakini lagi adalah, bahwa sesungguhnya masa/era Rasūlullāh s.a.w., adalah masa yang terbaik, lantas masa sesudahnya (Shahabat Nabi) kemudian masa sesudahnya lagi (Tābi‘īn).

Dan seyogyanya bagi seseorang untuk mengetahui putra seseorang untuk mengetahui putra-putri Nabi Muḥammad s.a.w. Dan jumlah mereka berdasarkan riwayat yang Shaḥīḥ adalah Sayyid Qāsim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fāthimah, Sayyidah Ummi Kultsūm, Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki ath-Thayyib dan ath-Thāhir, Sayyid Ibrāhīm. Dan mereka semuanya dari Ibu Sayyidah Khadījah al-Kubrā kecuali Sayyid Ibrāhīm dari Ibu Māriyyah al-Qibthiyyah.

Ini akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah s.w.t., dari sifat Kedermawanan-Nya dan Kemuliaan-Nya.

Segala puji hanya milik Allah s.w.t., Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad s.a.w., dan juga kepada keluarganya dan para Shahabatnya

TAUHID : Sifat Jaiz Alloh dan Nabi/Rosul


Sifat JaizBagi Alloh
وَالْجَـائِزُ فِى حَقِّهِ تَعَالى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْتَرْكُهُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهَ سُبْحَانَ اللهُ وَتَعَالى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًـا أَوْ مُسْتَحِيْلاً وَهُوَ مُحِالٌ.
Boleh bagi ḥaqqnya Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya. Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya adalah seandainya Allah berkewajiban untuk mengerjakan sesuatu atau berkewajiban untuk meninggalkannya niscaya sifat Jā’iztersebut menjadi Wājib atau Mustaḥīl. Dan hal itu adalah hal yang tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

Sifat Jaiz Bagi Rosul
وَالْجَائِزُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِى لاَ نُؤْدِى اِلى نَقْصٍ فِى مَرَاتِبِهِمْ الْعَلِيَةِ كَالْمَرَضِ وَنَحْوِهِ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَـا بِهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ .
Boleh bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-A‘rādh-ul-Basyariyyah (sifat Manusiawi) yang tidak sampai mendatangkan pada rendahnya martabat mereka yang luhur, seperti sakit dan semisalnya. Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi (al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri para rasul ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām.

TAUHID : 4 Sifat Nabi dan Rosul


Sifat Sidiq

وَيَجِبُ فِى حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الصِّدْقُ وَضِدُّهُ الْكِذْبُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّـهُمْ لَوْ كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالى كَاذِبًـاوَهُوَ مُحَالٌ.
Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat ash-Shiddīq (Benar atau Jujur). Kebalikannya adalah sifat al-Kidzbu(Berbohong). Dalil bahwa para rasul memiliki sifat ash-Shidqu adalah seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong. Dan hal itu tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).
  1. Sifat wajib : Shidiq Artinya "Jujur"
  2. Sifat Mustahil : Kidzib Artinya Bohong
  3. Dalil Aqli : "seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong"
  4. Dalil Naqli : "QS. al-Hasyr : 7"
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ
”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,”

Amanah

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَمَانَـةُ وَضِدُّهَـا الْخِيَانَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوا بِفِعْلٍ مَحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.
Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Amānah (dapat dipercaya/terpercaya). Kebalikannya adalah sifat al-Khiayānat(Berkhianat/tidak dapat dipercaya). Dalil bahwa para rasul memiliki sifat al-Amānah adalah seandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk melakukan hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan.
  1. Sifat wajib : Amanah Artinya "terpercaya"
  2. Sifat Mustahil : Khiayat Artinya Berkhianat /tidak dapat dipercaya
  3. Dalil Aqli : "eandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa"
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-anfal: 58"
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”

Tabligh

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ لِلْخَلْقِ وَضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْأً أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ لأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.
Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat Tablīghu Mā Umirū bi Tablīghihi(Menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan). Kebalikannya adalah sifat Kitmān (Menyembunyikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan) Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Tablīghu Mā Umiru bi Tablīghihi adalah seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat.
  1. Sifat wajib : Tabligh Artinya "Menyampaikan"
  2. Sifat Mustahil : Kitman Artinya menyembunyikan
  3. Dalil Aqli : "seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Ahzab : 39"
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.”

Fathonah

وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الْفَطَانَـةُ وَضِدُّهَا الْبَلاَدَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَو انْتَفَتْ عَنْهُمْ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّـةً عَلى الخَصْمِ وَهُوَ مُحَالٌ لأَنَّ الْقُرْأنَ دَلَّ فِى مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى اِقَامَتِهِمْ الْحُجَّةَ عَلى الْخَصْمِ
Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Fathanah (Cerdas/Pandai). Kebalikannya adalah Baladah (Bodoh) Dalil bahwa para rasul memiliki kecerdasan niscaya mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya.
  1. Sifat wajib : Fathonah Artinya "Cerdas"
  2. Sifat Mustahil : Biladah Artinya Bodoh
  3. Dalil Aqli : "mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya"
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-An'am: 83"
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.”

TAUHID : Sifat 15 - 20


16. Sifat ke 16 - Sifat Aliman
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ عَالِمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلاً وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْعِلْـمِ
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu ‘Āliman (adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Jāhilan (adanya Allah Dzat yang Bodoh). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui adalah dalil sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui).
  1. Sifat wajib : Ilmu Artinya "Maha mengetahui"
  2. Sifat Mustahil : Jahlun Artinya Bodoh
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 231"
 وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Sifat ke 17 - Sifat Hayyan
. وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ حَيًّـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيتًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْحَيَـاةِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Ḥayyan (adanya Allah Dzat yang Maha Hidup). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Mayyitan (adanya Allah Dzat yang Mati). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat yang Maha Hidup adalah dalil sifat al-Ḥayyāh(Maha Hidup).
  1. Sifat wajib : Wujud Artinya "Ada"
  2. Sifat Mustahil : 'Adam Artinya Tidak ada
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 255"
 اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  البقرة: 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)

Sifat ke 18 = Sifat Sami'an
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ سَمِيْعًـا بَصِيْرًا وَضِدُّهُمَا كَوْنُهُ أَصَمُّ وَكَوْنُهُ أَعْمى وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan Kaunuhu Bashīran(adanya Allah Dzat yang Maha Melihat). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya Allah Dzat yang Maha Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha Melihat).
  1. Sifat wajib : Sama'Artinya "maha Mendengar"
  2. Sifat Mustahil : Shomamun Artinya Tuli/tidak bisa mendengar
  3. Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar."
  4. Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
 وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.

Sifat ke 19- Sifat Bashiron
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ سَمِيْعًـا بَصِيْرًا وَضِدُّهُمَا كَوْنُهُ أَصَمُّ وَكَوْنُهُ أَعْمى وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan Kaunuhu Bashīran(adanya Allah Dzat yang Maha Melihat). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya Allah Dzat yang Maha Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha Melihat).
  1. Sifat wajib : Bashor Artinya "Maha Melihat"
  2. Sifat Mustahil : 'Umyun Artinya Buta/tidak bisa melihat
  3. Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat"
  4. Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
 وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
Sifat ke 20 - Sifat Mutakaliman
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ مُتَكَلِّمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْكَلاَمِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Mutakalliman (adanya Allah Dzat yang Maha Berfirman). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Abkama (adanya Allah Dzat yang Bisu). Dalil bahwa Allah memiliki sifat adanya Allah s.w.t. Dzat yang Maha Berfirman adalah dalil sifat al-Kalām (Maha Berfirman).
  1. Sifat wajib : Kalam Artinya "Berkata/berfirman"
  2. Sifat Mustahil : Bukmun Artinya Bisu/tidak bisa berbicara
  3. Dalil Aqli : "Adanya Alqur'an sebagai kalam Alloh"
  4. Dalil Naqli : "QS. An-nisa : 154"
  وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  النساء: 164
dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung

TAUHID : Sifat 10 - 15

11. Sifat ke 11 - Sifat Sama'
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى السَّمِيْـعُ وَالْبَصِيْرُ وَهُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُودُ وَضِدُّهَمَا الصَّمَمُ والْعُمْيُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالى وَهُوَ السَّمِيْعُ وَالبَصِيْرُ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud. Kebalikannya adalah sifat as-Shamam(Tuli) dan al-‘Amā (Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:
  1. Sifat wajib : Sama'Artinya "maha Mendengar"
  2. Sifat Mustahil : Shomamun Artinya Tuli/tidak bisa mendengar
  3. Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar."
  4. Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
 وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.

12. Sifat ke 12 - Sifat Bashor
َيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى السَّمِيْـعُ وَالْبَصِيْرُ وَهُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُودُ وَضِدُّهَمَا الصَّمَمُ والْعُمْيُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالى وَهُوَ السَّمِيْعُ وَالبَصِيْرُ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud. Kebalikannya adalah sifat as-Shamam(Tuli) dan al-‘Amā (Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:
  1. Sifat wajib : Bashor Artinya "Maha Melihat"
  2. Sifat Mustahil : 'Umyun Artinya Buta/tidak bisa melihat
  3. Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat"
  4. Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
 وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.

13. Sifat 13 - Sifat Kalam
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْكَلاَمُ وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى وَلَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلاَ صَوْتٍ وَضِدُّهَـا الْبُكْمُ وَهُوَ الْخَرْسُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ وَكَلَّمَ اللهُ مَوسى تَكْلِيْمًـا.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Kalām (Maha Berfirman). Sifat Kalām adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. dan tidak berwujud huruf dan tidak berwujud suara. Kebalikannya adalah sifat al-Bukmu yaitu al-Kharas (Bisu). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah firman Allah s.w.t.:
Sifat wajib : Kalam Artinya "Berkata/berfirman"
Sifat Mustahil : Bukmun Artinya Bisu/tidak bisa berbicara
Dalil Aqli : "Adanya Alqur'an sebagai kalam Alloh"
Dalil Naqli : "QS. An-nisa : 154"
  وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  النساء: 164
dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung

14. Sifat ke 14 - Sifat Qodiron
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ قَادِرًا وَضِدُّهُ كَوْنُـهُ عَاجِزًا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الْقُدْرَةِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Qādiran (adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ājizan(adanya Allah Dzat yang lemah).Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa adalah sebagaimana dalilnya sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa).
  1. Sifat wajib : Qudrot Artinya "Berkuasa"
  2. Sifat Mustahil : 'Ajzu Artinya "Lemah"
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 20"
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة: 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

15. Sifat ke 15 - Sifat Muridan
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى كَوْنُـهُ مُرِيْدًا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ الإِرَادَةِ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Murīdan (adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Kārihan (adanya Allah Dzat yang terpaksa).Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak adalah dalil sifat al-Irādah(Maha Berkehendak).
  1. Sifat wajib : Irodat Artinya "Maha berkehendak"
  2. Sifat Mustahil : 'Karohah Artinya Terpaksa
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Hud : 107"
 إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  هود: 107
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.

TAUHID : Sifat 6 - 10

Assalamualaikum semua ^_^
semoga hingga sekarang kita tetap menjadi orang yang sholeh dan sholehah serta tetap selalu istiqobah berbakti kepadanya. ayo kita lanjutan setelah bahasan kemarin TAUHID : Sifat 5 kita lanjutkan ke bagian Sifat 10, jangan lupa untuk selalu membaca do'a sebelum belajar agar kita diberi kemudahan dalam mempelajari materi ini.


  1. Sifat 6
Sifat wahdaniyat
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْوَحْدَنِيَّـةُ فِى الذَّاتِ وَفِى الصِّفَاتِ وَفِى الأَفْعَالِ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مَرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِدَةٍ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الصِّفَاتِ أَنَّـهُ لَيْسَ لَهُ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَهَكَذَا وَلَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالى وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الأَفْعَالِ أَنَّـهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْـلٌ مِنَ الأَفْعَالِ وَضِدُّهَا التَّعَدُّدُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَـدِّدًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ.

"Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah, sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak. Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.
Arti tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.). Kebalikannya adalah sifat atTa‘addud (berbilang). Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq(sesuatu selain Allah) ini."
  1. Sifat wajib : Wahdaniat Artinya "Maha tunggal"
  2. Sifat Mustahil : Ta'adud Artinya "berjumlah/banyak"
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah Ta’addud (tidak tunggal) maka tidak akan ada ciptaanNya, karena apabila Allah ada dua tentu mereka akan berbagi pendapat, dan itu mustahil. Maka  tidak mungkin Allah Ta’addud."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Ikhlas"
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
(1)Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (2)  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (3)  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (4)  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

  1. Sifat 7
Sifat Qudrot
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقُدْرَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُوجَدُ بِهَا وَيُعَدِّمُ وَضِدُّهَا الْعَجْزُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ .

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrahadalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu. Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah). Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.
  1. Sifat wajib : Qudrot Artinya "Berkuasa"
  2. Sifat Mustahil : 'Ajzu Artinya "Lemah"
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 20"
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة: 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

  1. Sifat 8
Sifat Irodat
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلإِرَادَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يُخَصِّصُ بِهَـا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُودِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغَـنِيِّ أَوْ بِالْفَقْـرِ أَوْ بِالْعِـلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ اِلى غَيْرِ ذلِكَ وَضِدُّهَـا الْكَرَاهَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارَهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُـهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya. Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah(terpaksa). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
  1. Sifat wajib : Irodat Artinya "Maha berkehendak"
  2. Sifat Mustahil : 'Karohah Artinya Terpaksa
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Hud : 107"
 إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  هود: 107
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.


  1. Sifat 9
Sifat Ilmu
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْعِـلْمُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى يَعْلَمُ بِهَـا الأَشْيَـاءَ وَضِدُّهَـا الْجَهْلُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلاً لَمْ يَكُنْ مُرِيْـدًا وَهُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal. Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
  1. Sifat wajib : Ilmu Artinya "Maha mengetahui"
  2. Sifat Mustahil : Jahlun Artinya Bodoh
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 231"
 وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.


  1. Sifat 10
Sifat Hayat
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْحَيـاةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى تَصُحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ مِنَ الصِّفَـاتِ وَضِدُّهَـا الْمَوْتُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيْـتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَلاَ مُرِيْدًا وَلاَ عَالِمًـا وَهُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāhadalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya. Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
  1. Sifat wajib : Hayat Artinya "Maha Hidup"
  2. Sifat Mustahil : Maut Artinya Mati
  3. Dalil Aqli : "Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil."
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 255"
 اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  البقرة: 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)


semoga setelah kita tahu dan faham sifat 10 ini menambah keimanan kita dan ketauhidan kita, pada bahasan selanjutnya kita akan bahas tentang sifat ke 15

sekitan dari kami
wassalamualaikum Wr. Qb

TAUHID : Sifat 1 - 5

Assalamualaikum Wr. Wb.
Hallo teman teman, jangan lupa untuk terus bersyukur hari ini ya. Pada kesempatan ini kita akan menbahas tentang "tauhid Sifat 5" yang intinya adalh 5 sifat wajib Alloh SWt, sudah tak sabarkan untuk bisa mengetahui sifat apa saja sih yang ada pada Alloh SWT, yuk kita baca dulu bismilah dan do'a sebelum belajarnya ^_^

  1. Sifat 1
Sifat Wujud
فَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى الْوُجُودُ وَضِدُّهُ الْعَدَمُ وَالدَّلِـيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُودُ الْمَخْلُوْقَاتِ
" Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).Kebalikannya adalah sifat ‘Adam (tidak ada). Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya makhluk (semua hal selain Allah). "
  1. Sifat wajib : Wujud Artinya "Ada"
  2. Sifat Mustahil : 'Adam Artinya Tidak ada
  3. Dalil Aqli : "Karena Ada Ciptaan-Nya"
  4. Dalil Naqli : "QS. Ar-Ro'du : 16"
{قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ … قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16)} [الرعد: 16]
16. Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. …..” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

  1. Sifat 2
Sifat Qidam
وَيَجِبُ الْقِدَمُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ لاَ أَوَّلَ لَهُ تَعَالى وَضِدُّهُ الْحُدُوْثُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لاَحْتَاجَ اِلَى مُحْدِثٍ وَهُوَ مُحَالٌ

" Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.
Kebalikannya adalah sifat al-Ḥudūts(baru).Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl). "
  1. Sifat wajib : Qidam Artinya "Terdahulu"
  2. Sifat Mustahil : Hudust Artinya "Baru"
  3. Dalil Aqli : " Seandainya Allah hudust (ada awalnya) pasti Allah membutuhkan yang menciptakan, dan itu mustahil bagi Allah. "
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-Hadid : 3"
{هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ} [الحديد: 3]
       Dialah yang Awal dan yang akhir.

  1. Sifat 3
Sifat Baqo
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى أَلْبَقَاءُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لاَ آخِرَ لَهُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَ مُحَالٌ
" Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya. Dan dalil atas sifat kekalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal (mustaḥīl). "
  1. Sifat wajib : Baqo Artinya "Kekal"
  2. Sifat Mustahil : Fana Artinya "Rusak"
  3. Dalil Aqli : " Seandainya Allah fana (rusak atau tidak kekal) pasti AllahHudust, dan itu mustahil.bagi Allah "
  4. Dalil Naqli : "QS. Ar-Rohman : 27"
{وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) } [الرحمن: 28]
  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

  1. Sifat 4
Sifat Mukholafatulil Hawaditsi
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لَيْسَ مُمَـاثِلاً لِلْحَوَادِثِ فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَلاَ عَيْنٌ وَلاَ أُذُنٌ وَلاَ غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَـاتِ الْحَوَادِثِ وَضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلاً لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَ مُحَالٌ
" Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda dengan makhluk). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang lainnya dari sifat-sifat makhluk. Kebalikannya adala sifat al-Mumātsalah(menyerupai). Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl). "
  1. Sifat wajib : Mukholafatulil Hawaditsi Artinya "Berbeda dengan ciptaannya"
  2. Sifat Mustahil : Mumatsalatu Lilhawaditsi Artinya " Serupa dengan Ciptaannya"
  3. Dalil Aqli : " Seandainya Allah Mumatsalah (menyerupai makhluk) maka Allah tidak ada bedanya dengan makhluk, dan itu mustahil. "
  4. Dalil Naqli : "QS. Asy-syuro: 11"
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [الشورى: 11]
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,

  1. Sifat 5
Qiyamuhu Binafsihi
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لاَيَفْتَقِرُ اِلى مَحَلٍ وَلاَاِلى مَخَصِّصٍ وَضِدُّهُ اَلإِحْتِيَاجُ اِلى الْمَحَلِ وَالمَخَصِّصِ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ احْتَـاجَ اِلى مَحَلٍ لَكَانَ صِفَةً وَكَونُهُ صِفَة مُحَال وَ لَوْ احْتَـاجَ اِلى مَخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًـا وَكَونُهُ حَادِثًـا مُحَالٌ
" Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh pada yang mewujudkan. Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta). Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Dan seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl). "
  1. Sifat wajib : Qiyamuhu Binafsihi Artinya "Berdiri dengan dzat Nya sendiri"
  2. Sifat Mustahil : Ihtiyaju Artinya "Membutuhkan"
  3. Dalil Aqli : " Seandainya Allah Ihtiyaj (membutuhkan tempat atau pencipta) maka Allah “sifat”.Seperti warna putih(sifat), membutuhkan benda(untuk tempat), apa bila benda itu hilang maka warna putihpun akan ikut hilang. Dan itu mustahil bagi Allahn  "
  4. Dalil Naqli : "QS. Al-ankabut: 6"
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Okey itulah sifat 5 alloh yang wajib kita ketahui, jangan lupa untuk terus mengulang materi yang sudah di bahas. Karena dengan begitu kita akan faham dan dapat dnegan mudah mengamalkannya
Wassalamualaikum Wr.Wb.


TAUHID : Muqodimah

Assalamualaikum semuanya ^_^
hari ini bahasan tentang tauhid kita akan menggunakan kitab "Tijan Ad-Darari" yang sudah di terjemahkan oleh AlKhoirot dan disusun sebgai materi oleh Kelas Ka Ali, semoga Ilmu yang telah disampaikan bisa sangat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal ibadah untuk semuanya.

Nama kitab: Terjemah Matan Kitab Tijan Darari / Tiijaan Al Daraari (Matan Al-Bajuriyah)
Judul asal: تيجان الدراري في التوحيد (Tijan Ad-Darari fit Tauhid)
Penulis: Ibrahim Al-Bajuri (1189 - 1276 H)
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصًّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَبَعْدُ).

فَيَقُوْلُ فَقِيْرُ رَحْمَةِ رَبِّهِ الْخَبِيْـرُ الْبَصِيْـرُ اِبْرَاهِيْمُ اَلْبَاجُورِى ذُو التَّقْصِيْرِ طَلَبَ مِنِّى بَعْضُ الإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِى وَلَهُمْ الْحَالَ وَالشَّأنَ أَنْ أَكْتُبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْـتَمِلُ عَلَى صِفَـاتِ الْمَوْلى وَاضْدَادِهَـا وَمَا يَجُوزُ فِى حَقِّهِ تَعَالى وَعَلَى مَا يَجِبُ فِى حَقِّ الرَّسُولِ وَمَا يَسْتَحِيْلُ فِى حَقِّهِمْ وَمَا يَجُوزُ فَأَجَبْـتُهُ اِلى ذلِكَ فَقُلْتُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ
Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).

Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.

Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.

Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .


يَجِبُ عَلى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَايَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالَى وَمَايَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ

Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).

semoga dengan muqodimah ini menjadikan ilmu kita lebih berkah, ayo kita lanjutkan matero lota le pembahasan selanjutnya

Wassalamualaikum Wr.Wb




Terbaik👍

soal fikih bagian 1

Sebutkan delapan syarat sah shalat! Apa konsekuensi jika seseorang shalat dalam keadaan berhadats besar? Mengapa pakaian yang...