HAQU : Hafalan Qur'an Level Dasar dan Level 1
Posted by ami marif
Posted on November 16, 2018
with No comments
10 Do;a Tema Sholat 2
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
Assalamualaikum Semuanya...
semoga kita selalu dalam rahmat nya. pasti sudah penasaran kan dengan materi Do'a 10 tema sholat 2 kan? ini dia daftar Do'a nya
Wassalamualaikum Wr. Wb.
semoga kita selalu dalam rahmat nya. pasti sudah penasaran kan dengan materi Do'a 10 tema sholat 2 kan? ini dia daftar Do'a nya
- Do'a qunut
- Niat sholat sunah 10
- Niat sholat mayit dan ghoib
- Do'a Sholat Mayit 1
- Do'a Sholat mayit 2
- Niat I'tikaf
- Do'a sholat duha
- Do'a Sajdah
- D0'a Masuk masjid
- Do'a Keluar masjid
Wassalamualaikum Wr. Wb.
TAUHID : Silsilah nabi - Khotimah
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
يَجِبُ عَلى الشَّخْصِ أَنْ
يَعْرِفَ نَسَبَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ
جِهَّةِ أُمِّهِ فَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ
أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
بِنِ هَاشِمِ بِنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَى بِنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ
كَعْبِ بْنِ لُؤَى بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مِالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ
كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ اِلْيَاسَ بِنِ مُضْرِ بْنِ
نِزَارِ بْنِ مُعَدِ بْنِ عَدْنَانَ وَلَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ اِلى آدَمَ
عَلَيْهِ الصَّلاِةُ وَالسَّلاَمُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.
وَأَمَّـا نَسَـبُهُ صَلّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ اُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ
آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلاَبِ
فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى جَدِّهِ كِلاَبٌ
SILSILAH NASAB
RASULULLAH
Wajib bagi semua
orang untuk mengetahui silsilah Nabi s.a.w., baik dari pihak ayah Beliau maupun
dari pihak ibu Beliau.
Adapun silsilah Nabi
s.a.w., dari jalur ayah beliau adalah, baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah
putra ‘Abdullāh putranya ‘Abd-ul-Muththalib putranya Hāsyim putranya ‘Abdu
Manāf putranya Qushay putranya Kilāb putranya Murrah putranya Ka‘b putranya
Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya
Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar
putranya Nizār putranya Ma‘add putranya ‘Adnān. Dan – sampai Sayyid ‘Adnān ini
– tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam a.s.
Adapun silsilah Nabi
s.a.w., dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra
Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka
bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi s.a.w., pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.
KEKHUSUSAN NABI
وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًـا.
وَأَنَّهُ صَلّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْفَعُ فِى فَصْلِ الْقَضَاءِ وَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ
مُخْتَصَةٌ بِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمِمَّا يَجِبُ أَيْضًـا
أَنْ يَعْرِفَ الْرُّسُلَ الْمَذْكُورَةَ فِى الْقُرْأنِ تَفْصِيْلاً وَأَمَّا
غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَهُمْ اِجْمَالاً
وَقَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمْ
الأَنْبِيآء اَلَّتِى تَجِبُ مَعْرِفَتَهُمْ تَفْصِيْلاً, فَقَالَ :
حَتْمٌ عَلى كُلِّ ذِي
التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ *** بِأَنْبِيَآءَ عَلى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُـوْا
فِى تِلْكَ حَجَتُنَا
مِنْهُمْ ثَمَــانِيَةٌ *** مِنْ بَعْـدِ عَشْرٍ وَيَبْقى سَبْعَةٌ وَهُمْ
اِدْرِيْسٌ هُوْدٌ شُعَيْبٌ
صَالِحٌ وَكَذَا *** ذُو الْكِفْلِ آدَمٌ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خَتَمُوْا
Dan dari sebagian
perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w.,
memiliki Ḥaudh(danau di surga).
Dan sesungguhnya
Nabi Muḥammad s.a.w. akan memberi syafaat ketika dalam Fashl-ul-Qadhā’
(pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafā‘ah ini dikhususkan kepada
Nabi Muḥammad s.a.w.
Dan yang wajib untuk
diketahui juga adalah nama para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān secara
rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib
mengetahuinya secara global saja.
Dan sebagian ulama
telah menazhamkan nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka
berkata:
Wajib bagi setiap
Mukallaf mengetahui,
Nama para Nabi
secara terperinci yang telah diketahui.
Di situlah hujjah
kita. Sebagian mereka ada delapan,
Setelah sepuluh
(8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.
Nabi Idrīs, Hūd,
Syu‘aib, Shāliḥ, begitu juga,
Nabi Zulkifli, Ādam
dengan Nabi yang terpilihlah (Nabi Muḥammad) para Nabi diakhiri.
ERA TERBAIK SETELAH
ZAMAN NABI
وَمِمَّا يَجِبُ
اِعْتِقَادُهُ أَيْضًـا أَنَّ قَرَنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُونِ ثُمَّ الْقَرْنُ
الَّذِي بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُ
وَيَنْبَغِى لِلشَّخْصِ أَنْ
يَعْرِفَ أَوْلاَدَهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ عَلى الصَّحِيْحِ
سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَسَيِّدَتُنَا زَيْنَبُ وَسَيِّدَتُنَا رُقَيَّةُ
وَسَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ وَسَيِّدَتُنَا اُمُّ كُلْثُومٍ وَسَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ
وَهُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَالطَّاهِرِ وَسَيِّدُنَا اِبْرَاهِيْمُ
وَكُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرى اِلاَّ اِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ
مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ.
وَهَذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ
اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ وَصَلّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ.
Dan sebagian yang
wajib diyakini lagi adalah, bahwa sesungguhnya masa/era Rasūlullāh s.a.w.,
adalah masa yang terbaik, lantas masa sesudahnya (Shahabat Nabi) kemudian masa
sesudahnya lagi (Tābi‘īn).
Dan seyogyanya bagi
seseorang untuk mengetahui putra seseorang untuk mengetahui putra-putri Nabi
Muḥammad s.a.w. Dan jumlah mereka berdasarkan riwayat yang Shaḥīḥ adalah Sayyid
Qāsim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fāthimah, Sayyidah Ummi Kultsūm,
Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki ath-Thayyib dan ath-Thāhir, Sayyid Ibrāhīm. Dan
mereka semuanya dari Ibu Sayyidah Khadījah al-Kubrā kecuali Sayyid Ibrāhīm dari
Ibu Māriyyah al-Qibthiyyah.
Ini akhir dari
sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah s.w.t., dari sifat Kedermawanan-Nya
dan Kemuliaan-Nya.
Segala puji hanya
milik Allah s.w.t., Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad
s.a.w., dan juga kepada keluarganya dan para Shahabatnya
TAUHID : Sifat Jaiz Alloh dan Nabi/Rosul
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
Sifat JaizBagi Alloh
وَالْجَـائِزُ فِى حَقِّهِ
تَعَالى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْتَرْكُهُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ
لَوْ وَجَبَ عَلَيْهَ سُبْحَانَ اللهُ وَتَعَالى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ
لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًـا أَوْ مُسْتَحِيْلاً وَهُوَ مُحِالٌ.
Boleh bagi ḥaqqnya
Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau
meninggalkannya. Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara
yang mungkin atau meninggalkannya adalah seandainya Allah berkewajiban untuk
mengerjakan sesuatu atau berkewajiban untuk meninggalkannya niscaya sifat
Jā’iztersebut menjadi Wājib atau Mustaḥīl. Dan hal itu adalah hal yang tidak
dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).
Sifat Jaiz Bagi Rosul
وَالْجَائِزُ فِى حَقِّهِمْ
عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِى لاَ
نُؤْدِى اِلى نَقْصٍ فِى مَرَاتِبِهِمْ الْعَلِيَةِ كَالْمَرَضِ وَنَحْوِهِ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَـا بِهِمْ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ
وَالسَّلامُ .
Boleh bagi ḥaqqnya
para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-A‘rādh-ul-Basyariyyah (sifat
Manusiawi) yang tidak sampai mendatangkan pada rendahnya martabat mereka yang
luhur, seperti sakit dan semisalnya. Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi
(al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri
para rasul ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām.
TAUHID : 4 Sifat Nabi dan Rosul
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
Sifat Sidiq
وَيَجِبُ فِى حَقِّ
الرُّسُلِ عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الصِّدْقُ وَضِدُّهُ الْكِذْبُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّـهُمْ لَوْ كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالى كَاذِبًـاوَهُوَ مُحَالٌ.
Dan wajib bagi
ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat ash-Shiddīq (Benar atau
Jujur). Kebalikannya adalah sifat al-Kidzbu(Berbohong). Dalil bahwa para rasul
memiliki sifat ash-Shidqu adalah seandainya para rasul berbohong niscaya
berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong. Dan
hal itu tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).
- Sifat wajib : Shidiq Artinya "Jujur"
- Sifat Mustahil : Kidzib Artinya Bohong
- Dalil Aqli : "seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong"
- Dalil Naqli : "QS. al-Hasyr : 7"
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ
فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ
”Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah,”
Amanah
وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ
عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الأَمَانَـةُ وَضِدُّهَـا الْخِيَانَةُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوا بِفِعْلٍ مَحَرَّمٍ أَوْ
مَكْرُوهٍ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ
بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.
Dan wajib bagi
ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Amānah (dapat
dipercaya/terpercaya). Kebalikannya adalah sifat al-Khiayānat(Berkhianat/tidak
dapat dipercaya). Dalil bahwa para rasul memiliki sifat al-Amānah adalah
seandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang
dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa. Dan tidak
benar jika kita diperintah untuk melakukan hal yang diharamkan atau yang
dimakruhkan.
- Sifat wajib : Amanah Artinya "terpercaya"
- Sifat Mustahil : Khiayat Artinya Berkhianat /tidak dapat dipercaya
- Dalil Aqli : "eandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa"
- Dalil Naqli : "QS. Al-anfal: 58"
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ
الخَائِنِينَ
“Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
Tabligh
وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ
عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ
لِلْخَلْقِ وَضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ
كَتَمُوْا شَيْأً أُمِرُوْا بِتَبْلِـيْغِهِ لَكُـنَّا مَأْمُرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ
وَلاَ يَصِحُ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ لأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.
Dan wajib bagi
ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat Tablīghu Mā Umirū bi
Tablīghihi(Menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan). Kebalikannya
adalah sifat Kitmān (Menyembunyikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan)
Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Tablīghu Mā Umiru bi Tablīghihi adalah
seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk
disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidak
benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang
menyembunyikan ilmu itu dilaknat.
- Sifat wajib : Tabligh Artinya "Menyampaikan"
- Sifat Mustahil : Kitman Artinya menyembunyikan
- Dalil Aqli : "seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Ahzab : 39"
الَّذِينَ
يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ
اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah
berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka
takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain
kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.”
Fathonah
وَيَجِبُ فِى حَقِّهِمْ
عَلَيْهِمْ الصَّلاَةُ وَالسَّلامُ الْفَطَانَـةُ وَضِدُّهَا الْبَلاَدَةُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَو انْتَفَتْ عَنْهُمْ الْفَطَانَةُ لَمَا
قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّـةً عَلى الخَصْمِ وَهُوَ مُحَالٌ لأَنَّ
الْقُرْأنَ دَلَّ فِى مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى اِقَامَتِهِمْ الْحُجَّةَ عَلى
الْخَصْمِ
Dan wajib bagi
ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Fathanah
(Cerdas/Pandai). Kebalikannya adalah Baladah (Bodoh) Dalil bahwa para rasul
memiliki kecerdasan niscaya mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan
para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān
telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah
mengalahkan para lawan/musuhnya.
- Sifat wajib : Fathonah Artinya "Cerdas"
- Sifat Mustahil : Biladah Artinya Bodoh
- Dalil Aqli : "mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya"
- Dalil Naqli : "QS. Al-An'am: 83"
وَتِلْكَ
حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah
berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk
menghadapi kaumnya.”
TAUHID : Sifat 15 - 20
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
16. Sifat ke 16 - Sifat Aliman
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ عَالِمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلاً وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ
دَلِيْلُ الْعِلْـمِ
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu ‘Āliman (adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui).
Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Jāhilan (adanya Allah Dzat yang Bodoh). Dalil
bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui adalah
dalil sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui).
- Sifat wajib : Ilmu Artinya "Maha mengetahui"
- Sifat Mustahil : Jahlun Artinya Bodoh
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 231"
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan
ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Sifat ke 17 - Sifat Hayyan
. وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ حَيًّـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيتًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ
الْحَيَـاةِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Ḥayyan (adanya Allah Dzat yang Maha Hidup).
Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Mayyitan (adanya Allah Dzat yang Mati). Dalil
bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat yang Maha Hidup adalah dalil sifat
al-Ḥayyāh(Maha Hidup).
- Sifat wajib : Wujud Artinya "Ada"
- Sifat Mustahil : 'Adam Artinya Tidak ada
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 255"
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ البقرة: 255
Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
Sifat ke 18 = Sifat Sami'an
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ سَمِيْعًـا بَصِيْرًا وَضِدُّهُمَا كَوْنُهُ أَصَمُّ وَكَوْنُهُ أَعْمى
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan
Kaunuhu Bashīran(adanya Allah Dzat yang Maha Melihat). Kebalikannya adalah
sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya
Allah Dzat yang Maha Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya
Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah
dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha
Melihat).
- Sifat wajib : Sama'Artinya "maha Mendengar"
- Sifat Mustahil : Shomamun Artinya Tuli/tidak bisa mendengar
- Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar."
- Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ الشورى: 11
dan
Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
Sifat ke 19- Sifat Bashiron
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ سَمِيْعًـا بَصِيْرًا وَضِدُّهُمَا كَوْنُهُ أَصَمُّ وَكَوْنُهُ أَعْمى
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ دَلِيْلُ السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan
Kaunuhu Bashīran(adanya Allah Dzat yang Maha Melihat). Kebalikannya adalah
sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya
Allah Dzat yang Maha Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya
Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah
dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha
Melihat).
- Sifat wajib : Bashor Artinya "Maha Melihat"
- Sifat Mustahil : 'Umyun Artinya Buta/tidak bisa melihat
- Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat"
- Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ الشورى: 11
dan
Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
Sifat ke 20 - Sifat Mutakaliman
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ مُتَكَلِّمًـا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ
دَلِيْلُ الْكَلاَمِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Mutakalliman (adanya Allah Dzat yang Maha
Berfirman). Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Abkama (adanya Allah Dzat yang
Bisu). Dalil bahwa Allah memiliki sifat adanya Allah s.w.t. Dzat yang Maha
Berfirman adalah dalil sifat al-Kalām (Maha Berfirman).
- Sifat wajib : Kalam Artinya "Berkata/berfirman"
- Sifat Mustahil : Bukmun Artinya Bisu/tidak bisa berbicara
- Dalil Aqli : "Adanya Alqur'an sebagai kalam Alloh"
- Dalil Naqli : "QS. An-nisa : 154"
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى
تَكْلِيمًا النساء: 164
dan
Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung
TAUHID : Sifat 10 - 15
Posted by ami marif
Posted on November 14, 2018
with No comments
11. Sifat ke 11 - Sifat
Sama'
12. Sifat ke 12 - Sifat Bashor
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى السَّمِيْـعُ وَالْبَصِيْرُ وَهُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ
قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُودُ وَضِدُّهَمَا
الصَّمَمُ والْعُمْيُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالى وَهُوَ
السَّمِيْعُ وَالبَصِيْرُ.
Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha
Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah
s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud. Kebalikannya
adalah sifat as-Shamam(Tuli) dan al-‘Amā (Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t.
memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:
- Sifat wajib : Sama'Artinya "maha Mendengar"
- Sifat Mustahil : Shomamun Artinya Tuli/tidak bisa mendengar
- Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar."
- Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ الشورى: 11
dan
Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
َيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
السَّمِيْـعُ وَالْبَصِيْرُ وَهُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ
بِذَاتِهِ تَعَالى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُودُ وَضِدُّهَمَا الصَّمَمُ
والْعُمْيُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالى وَهُوَ السَّمِيْعُ
وَالبَصِيْرُ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat).
Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang
dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud. Kebalikannya adalah sifat
as-Shamam(Tuli) dan al-‘Amā (Buta). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat
Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:
- Sifat wajib : Bashor Artinya "Maha Melihat"
- Sifat Mustahil : 'Umyun Artinya Buta/tidak bisa melihat
- Dalil Aqli : "Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat"
- Dalil Naqli : "QS. AS-suro: 11"
وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ الشورى: 11
dan
Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
13. Sifat 13 - Sifat Kalam
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
الْكَلاَمُ وَهُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالى وَلَيْسَتْ
بِحَرْفٍ وَلاَ صَوْتٍ وَضِدُّهَـا الْبُكْمُ وَهُوَ الْخَرْسُ وَالدَّلِيْلُ عَلى
ذلِكَ قَوْلُهُ وَكَلَّمَ اللهُ مَوسى تَكْلِيْمًـا.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat al-Kalām (Maha Berfirman). Sifat Kalām adalah sifat
terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. dan tidak berwujud huruf dan
tidak berwujud suara. Kebalikannya adalah sifat al-Bukmu yaitu al-Kharas
(Bisu). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah firman
Allah s.w.t.:
Sifat
wajib : Kalam Artinya "Berkata/berfirman"
Sifat
Mustahil : Bukmun Artinya Bisu/tidak bisa berbicara
Dalil
Aqli : "Adanya Alqur'an sebagai kalam Alloh"
Dalil
Naqli : "QS. An-nisa : 154"
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى
تَكْلِيمًا النساء: 164
dan
Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung
14. Sifat ke 14 - Sifat Qodiron
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ قَادِرًا وَضِدُّهُ كَوْنُـهُ عَاجِزًا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ
دَلِيْلُ الْقُدْرَةِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Qādiran (adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa).
Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ājizan(adanya Allah Dzat yang lemah).Dalil
bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa adalah
sebagaimana dalilnya sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa).
- Sifat wajib : Qudrot Artinya "Berkuasa"
- Sifat Mustahil : 'Ajzu Artinya "Lemah"
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 20"
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ [البقرة: 20]
Sesungguhnya
Allah berkuasa atas segala sesuatu.
15. Sifat ke 15 - Sifat Muridan
وَيَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالى
كَوْنُـهُ مُرِيْدًا وَضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًـا وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ
دَلِيْلُ الإِرَادَةِ.
Wajib pada ḥaqqnya
Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Murīdan (adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak).
Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Kārihan (adanya Allah Dzat yang
terpaksa).Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha
Berkehendak adalah dalil sifat al-Irādah(Maha Berkehendak).
- Sifat wajib : Irodat Artinya "Maha berkehendak"
- Sifat Mustahil : 'Karohah Artinya Terpaksa
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Hud : 107"
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ
لِمَا يُرِيدُ هود: 107
Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
TAUHID : Sifat 6 - 10
Posted by ami marif
Posted on November 10, 2018
with No comments
Assalamualaikum semua ^_^
semoga hingga sekarang kita tetap menjadi orang yang sholeh dan sholehah serta tetap selalu istiqobah berbakti kepadanya. ayo kita lanjutan setelah bahasan kemarin TAUHID : Sifat 5 kita lanjutkan ke bagian Sifat 10, jangan lupa untuk selalu membaca do'a sebelum belajar agar kita diberi kemudahan dalam mempelajari materi ini.
semoga hingga sekarang kita tetap menjadi orang yang sholeh dan sholehah serta tetap selalu istiqobah berbakti kepadanya. ayo kita lanjutan setelah bahasan kemarin TAUHID : Sifat 5 kita lanjutkan ke bagian Sifat 10, jangan lupa untuk selalu membaca do'a sebelum belajar agar kita diberi kemudahan dalam mempelajari materi ini.
- Sifat 6
Sifat
wahdaniyat
وَيَجِبُ فِى
حَقِهِ تَعَالى اَلْوَحْدَنِيَّـةُ فِى الذَّاتِ وَفِى الصِّفَاتِ وَفِى
الأَفْعَالِ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ
مَرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِدَةٍ وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى
الصِّفَاتِ أَنَّـهُ لَيْسَ لَهُ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ
كَقُدْرَتَيْنِ وَهَكَذَا وَلَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالى
وَمَعْنَى الْوَحْدَانِيَـةِ فِى الأَفْعَالِ أَنَّـهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْـلٌ
مِنَ الأَفْعَالِ وَضِدُّهَا التَّعَدُّدُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ
كَانَ مُتَعَـدِّدًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ.
"Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya,
Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah,
sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak.
Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada
bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat
Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang
menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.
Arti
tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah
suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah
atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.). Kebalikannya adalah sifat
atTa‘addud (berbilang). Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah:
seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat
dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq(sesuatu selain Allah) ini."
- Sifat wajib : Wahdaniat Artinya "Maha tunggal"
- Sifat Mustahil : Ta'adud Artinya "berjumlah/banyak"
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah Ta’addud (tidak tunggal) maka tidak akan ada ciptaanNya, karena apabila Allah ada dua tentu mereka akan berbagi pendapat, dan itu mustahil. Maka tidak mungkin Allah Ta’addud."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Ikhlas"
قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3)
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
(1)Katakanlah:
“Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, (4) Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
- Sifat 7
Sifat
Qudrot
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقُدْرَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ
تَعَالى يُوجَدُ بِهَا وَيُعَدِّمُ وَضِدُّهَا الْعَجْزُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ
أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوجَـدْ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ .
Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrahadalah
suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat
tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu. Kebalikannya adalah sifat
al-‘Ajz (lemah). Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah:
seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun
dari makhluq-Nya.
- Sifat wajib : Qudrot Artinya "Berkuasa"
- Sifat Mustahil : 'Ajzu Artinya "Lemah"
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 20"
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [البقرة: 20]
Sesungguhnya
Allah berkuasa atas segala sesuatu.
- Sifat 8
Sifat
Irodat
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى اَلإِرَادَةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ
تَعَالى يُخَصِّصُ بِهَـا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُودِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ
بِالْغَـنِيِّ أَوْ بِالْفَقْـرِ أَوْ بِالْعِـلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ اِلى غَيْرِ
ذلِكَ وَضِدُّهَـا الْكَرَاهَةُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ
كَارَهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُـهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.
Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah
adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan
sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud
atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya. Kebalikannya
adalah sifat al-Karāhah(terpaksa). Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha
Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat
lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal
(mustaḥīl).
- Sifat wajib : Irodat Artinya "Maha berkehendak"
- Sifat Mustahil : 'Karohah Artinya Terpaksa
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Hud : 107"
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ
لِمَا يُرِيدُ هود: 107
Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
- Sifat 9
Sifat
Ilmu
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى الْعِـلْمُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ
تَعَالى يَعْلَمُ بِهَـا الأَشْيَـاءَ وَضِدُّهَـا الْجَهْلُ وَالدَّلِيْلُ عَلى
ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلاً لَمْ يَكُنْ مُرِيْـدًا وَهُوَ مُحَالٌ.
Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu
adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat
tersebut Allah mengetahui semua hal. Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh).
Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya
Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha
Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
- Sifat wajib : Ilmu Artinya "Maha mengetahui"
- Sifat Mustahil : Jahlun Artinya Bodoh
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 231"
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan
ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
- Sifat 10
Sifat
Hayat
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى الْحَيـاةُ وَهِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ
تَعَالى تَصُحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ مِنَ الصِّفَـاتِ
وَضِدُّهَـا الْمَوْتُ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيْـتًا لَمْ
يَكُنْ قَادِرًا وَلاَ مُرِيْدًا وَلاَ عَالِمًـا وَهُوَ مُحَالٌ.
Wajib
pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāhadalah
sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat
tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat
lainnya. Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati). Dalil bahwa Allah s.w.t.
memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah
tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal
yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
- Sifat wajib : Hayat Artinya "Maha Hidup"
- Sifat Mustahil : Maut Artinya Mati
- Dalil Aqli : "Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil."
- Dalil Naqli : "QS. Al-Baqoroh : 255"
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ البقرة: 255
Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
semoga setelah kita tahu dan faham sifat 10 ini menambah keimanan kita dan ketauhidan kita, pada bahasan selanjutnya kita akan bahas tentang sifat ke 15
sekitan dari kami
wassalamualaikum Wr. Qb
TAUHID : Sifat 1 - 5
Posted by ami marif
Posted on November 09, 2018
with No comments
Assalamualaikum Wr.
Wb.
Hallo teman teman,
jangan lupa untuk terus bersyukur hari ini ya. Pada kesempatan ini kita akan
menbahas tentang "tauhid Sifat 5" yang intinya adalh 5 sifat wajib
Alloh SWt, sudah tak sabarkan untuk bisa mengetahui sifat apa saja sih yang ada
pada Alloh SWT, yuk kita baca dulu bismilah dan do'a sebelum belajarnya ^_^
- Sifat 1
Sifat
Wujud
فَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى الْوُجُودُ وَضِدُّهُ الْعَدَمُ وَالدَّلِـيْلُ عَلَى ذلِكَ
وُجُودُ الْمَخْلُوْقَاتِ
"
Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).Kebalikannya adalah
sifat ‘Adam (tidak ada). Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya
makhluk (semua hal selain Allah). "
- Sifat wajib : Wujud Artinya "Ada"
- Sifat Mustahil : 'Adam Artinya Tidak ada
- Dalil Aqli : "Karena Ada Ciptaan-Nya"
- Dalil Naqli : "QS. Ar-Ro'du : 16"
{قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ …
قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16)} [الرعد:
16]
16. Katakanlah:
“Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. …..” Katakanlah:
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa”.
- Sifat 2
Sifat
Qidam
وَيَجِبُ
الْقِدَمُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ لاَ أَوَّلَ لَهُ تَعَالى وَضِدُّهُ الْحُدُوْثُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لاَحْتَاجَ اِلَى مُحْدِثٍ
وَهُوَ مُحَالٌ
"
Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya,
sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.
Kebalikannya
adalah sifat al-Ḥudūts(baru).Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu
adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada
yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl). "
- Sifat wajib : Qidam Artinya "Terdahulu"
- Sifat Mustahil : Hudust Artinya "Baru"
- Dalil Aqli : " Seandainya Allah hudust (ada awalnya) pasti Allah membutuhkan yang menciptakan, dan itu mustahil bagi Allah. "
- Dalil Naqli : "QS. Al-Hadid : 3"
|
{هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ}
[الحديد: 3]
|
Dialah
yang Awal dan yang akhir.
|
- Sifat 3
Sifat
Baqo
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى أَلْبَقَاءُ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى لاَ آخِرَ لَهُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَ
مُحَالٌ
"
Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya,
sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya. Dan dalil atas sifat kekalnya
Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka
tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal
(mustaḥīl). "
- Sifat wajib : Baqo Artinya "Kekal"
- Sifat Mustahil : Fana Artinya "Rusak"
- Dalil Aqli : " Seandainya Allah fana (rusak atau tidak kekal) pasti AllahHudust, dan itu mustahil.bagi Allah "
- Dalil Naqli : "QS. Ar-Rohman : 27"
{وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)
} [الرحمن: 28]
Dan
tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
- Sifat 4
Sifat Mukholafatulil Hawaditsi
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى
لَيْسَ مُمَـاثِلاً لِلْحَوَادِثِ فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَلاَ عَيْنٌ وَلاَ أُذُنٌ
وَلاَ غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَـاتِ الْحَوَادِثِ وَضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ
وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلاً لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ
حَادِثًا وَهُوَ مُحَالٌ
"
Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda
dengan makhluk). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada
segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan,
tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang
lainnya dari sifat-sifat makhluk. Kebalikannya adala sifat
al-Mumātsalah(menyerupai). Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai
makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka
tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal
(mustaḥīl). "
- Sifat wajib : Mukholafatulil Hawaditsi Artinya "Berbeda dengan ciptaannya"
- Sifat Mustahil : Mumatsalatu Lilhawaditsi Artinya " Serupa dengan Ciptaannya"
- Dalil Aqli : " Seandainya Allah Mumatsalah (menyerupai makhluk) maka Allah tidak ada bedanya dengan makhluk, dan itu mustahil. "
- Dalil Naqli : "QS. Asy-syuro: 11"
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
[الشورى: 11]
tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia,
- Sifat 5
Qiyamuhu
Binafsihi
وَيَجِبُ
فِى حَقِهِ تَعَالى اَلْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَمَعْـنَاهُ أَنَّـهُ تَعَالى
لاَيَفْتَقِرُ اِلى مَحَلٍ وَلاَاِلى مَخَصِّصٍ وَضِدُّهُ اَلإِحْتِيَاجُ اِلى
الْمَحَلِ وَالمَخَصِّصِ وَالدَّلِيْلُ عَلى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ احْتَـاجَ اِلى
مَحَلٍ لَكَانَ صِفَةً وَكَونُهُ صِفَة مُحَال وَ لَوْ احْتَـاجَ اِلى مَخَصِّصٍ
لَكَانَ حَادِثًـا وَكَونُهُ حَادِثًـا مُحَالٌ
"
Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri).
Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh
pada yang mewujudkan. Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli
wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta). Dalil bahwasanya Allah
s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan
pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah
sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).
Dan
seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah
sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal
yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl). "
- Sifat wajib : Qiyamuhu Binafsihi Artinya "Berdiri dengan dzat Nya sendiri"
- Sifat Mustahil : Ihtiyaju Artinya "Membutuhkan"
- Dalil Aqli : " Seandainya Allah Ihtiyaj (membutuhkan tempat atau pencipta) maka Allah “sifat”.Seperti warna putih(sifat), membutuhkan benda(untuk tempat), apa bila benda itu hilang maka warna putihpun akan ikut hilang. Dan itu mustahil bagi Allahn "
- Dalil Naqli : "QS. Al-ankabut: 6"
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
Okey itulah sifat 5
alloh yang wajib kita ketahui, jangan lupa untuk terus mengulang materi yang
sudah di bahas. Karena dengan begitu kita akan faham dan dapat dnegan mudah
mengamalkannya
Wassalamualaikum
Wr.Wb.
TAUHID : Muqodimah
Posted by ami marif
Posted on November 08, 2018
with No comments
Assalamualaikum semuanya ^_^
hari ini bahasan tentang tauhid kita akan menggunakan kitab "Tijan Ad-Darari" yang sudah di terjemahkan oleh AlKhoirot dan disusun sebgai materi oleh Kelas Ka Ali, semoga Ilmu yang telah disampaikan bisa sangat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal ibadah untuk semuanya.
Nama kitab: Terjemah Matan Kitab Tijan Darari / Tiijaan Al Daraari (Matan Al-Bajuriyah)
Judul asal: تيجان الدراري في التوحيد (Tijan Ad-Darari fit Tauhid)
Penulis: Ibrahim Al-Bajuri (1189 - 1276 H)
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصًّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَبَعْدُ).
فَيَقُوْلُ فَقِيْرُ رَحْمَةِ رَبِّهِ الْخَبِيْـرُ الْبَصِيْـرُ اِبْرَاهِيْمُ اَلْبَاجُورِى ذُو التَّقْصِيْرِ طَلَبَ مِنِّى بَعْضُ الإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِى وَلَهُمْ الْحَالَ وَالشَّأنَ أَنْ أَكْتُبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْـتَمِلُ عَلَى صِفَـاتِ الْمَوْلى وَاضْدَادِهَـا وَمَا يَجُوزُ فِى حَقِّهِ تَعَالى وَعَلَى مَا يَجِبُ فِى حَقِّ الرَّسُولِ وَمَا يَسْتَحِيْلُ فِى حَقِّهِمْ وَمَا يَجُوزُ فَأَجَبْـتُهُ اِلى ذلِكَ فَقُلْتُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ
Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).
Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.
Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.
Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .
يَجِبُ عَلى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَايَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالَى وَمَايَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ
Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi
berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang
mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).
semoga dengan muqodimah ini menjadikan ilmu kita lebih berkah, ayo kita lanjutkan matero lota le pembahasan selanjutnya
Wassalamualaikum Wr.Wb
hari ini bahasan tentang tauhid kita akan menggunakan kitab "Tijan Ad-Darari" yang sudah di terjemahkan oleh AlKhoirot dan disusun sebgai materi oleh Kelas Ka Ali, semoga Ilmu yang telah disampaikan bisa sangat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal ibadah untuk semuanya.
Nama kitab: Terjemah Matan Kitab Tijan Darari / Tiijaan Al Daraari (Matan Al-Bajuriyah)
Judul asal: تيجان الدراري في التوحيد (Tijan Ad-Darari fit Tauhid)
Penulis: Ibrahim Al-Bajuri (1189 - 1276 H)
Penerjemah:
Bidang studi: Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah (Asy'ariyah)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصًّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَبَعْدُ).
فَيَقُوْلُ فَقِيْرُ رَحْمَةِ رَبِّهِ الْخَبِيْـرُ الْبَصِيْـرُ اِبْرَاهِيْمُ اَلْبَاجُورِى ذُو التَّقْصِيْرِ طَلَبَ مِنِّى بَعْضُ الإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِى وَلَهُمْ الْحَالَ وَالشَّأنَ أَنْ أَكْتُبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْـتَمِلُ عَلَى صِفَـاتِ الْمَوْلى وَاضْدَادِهَـا وَمَا يَجُوزُ فِى حَقِّهِ تَعَالى وَعَلَى مَا يَجِبُ فِى حَقِّ الرَّسُولِ وَمَا يَسْتَحِيْلُ فِى حَقِّهِمْ وَمَا يَجُوزُ فَأَجَبْـتُهُ اِلى ذلِكَ فَقُلْتُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ
Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).
Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.
Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.
Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .
يَجِبُ عَلى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَايَجِبُ فِى حَقِهِ تَعَالَى وَمَايَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ
semoga dengan muqodimah ini menjadikan ilmu kita lebih berkah, ayo kita lanjutkan matero lota le pembahasan selanjutnya
Wassalamualaikum Wr.Wb





